Dr. Marshal : Persoalan Beriga merupakan Golden Moment untuk Babel dalam mendapatkan royalti 10%

- Editor

Minggu, 3 November 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PANGKALPINANG – Konflik terkait tambang laut di Batu Beriga dinilai sebagai momentum strategis bagi Bangka Belitung (Babel) untuk menuntut pembagian royalti yang lebih adil dari PT Timah. Marshal Imar Pratama, seorang ekonom Babel, menilai bahwa perlawanan masyarakat terhadap aktivitas tambang di kawasan tersebut bisa menjadi dasar untuk memperjuangkan peningkatan royalti hingga 10% untuk provinsi itu.

“Babel sudah terlalu lama mengalami dampak negatif dari tambang. Saat ini, PT Timah tengah berada dalam posisi dilematis, dan inilah saatnya Babel memiliki nilai tawar yang kuat,” kata Marshal dalam keterangannya kepada awak media. “Jika konflik ini dimanfaatkan dengan baik, ini bisa menjadi jalan bagi Babel untuk meraih royalti yang lebih layak dari PT Timah.”

Marshal mengkritik PT Timah yang menurutnya sering berdalih bahwa kontribusinya sudah cukup besar bagi Babel, sementara kenyataannya tidak sebanding dengan kerusakan lingkungan akibat operasi tambang. Ia mengungkapkan, meski PT Timah mengklaim sulit memberikan royalti 10%, namun lebih memilih menanggung kebocoran sebesar Rp 300 triliun daripada mengalihkan royalti yang signifikan bagi Babel.

“Babel harus memiliki nilai tawar yang tinggi. Dengan royalti yang memadai, Babel bisa memperbaiki dampak kerusakan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” lanjutnya. “Setidaknya, royalti 10% ini menjadi hak permanen yang bisa kita tuntut dari PT Timah.”

Marshal menyarankan agar royalti ini dapat berbentuk obligasi atau aset jangka panjang yang dapat diinvestasikan oleh Babel. Baginya, permintaan royalti tersebut sebanding dengan waktu panjang selama Babel menanggung aktivitas tambang timah yang belum memberikan manfaat signifikan bagi daerah, kecuali sebagai penyedia lapangan kerja jangka pendek.

“Kenyataannya, Babel tidak mampu maju karena sebagian besar masyarakat masih berpikir konservatif, seringkali menyamakan lapangan pekerjaan dengan keberadaan tambang,” ungkapnya. “Padahal, ada potensi lain yang dapat dikembangkan.”

Menurut Marshal, pemerintah perlu mendekati masyarakat dengan cara yang komprehensif, khususnya dalam menanggulangi dampak tambang ilegal dan menciptakan alternatif ekonomi yang berkelanjutan. Di antaranya:

1. Pelatihan Keterampilan Alternatif – Masyarakat perlu dilatih dalam bidang pertanian, peternakan, atau usaha kecil, disesuaikan dengan potensi lokal.

2. Dukungan Usaha Mikro – Bantuan modal atau akses ke kredit mikro untuk masyarakat yang ingin memulai usaha baru setelah tambang ditutup.

3. Pengembangan Ekonomi Lokal – Potensi seperti pariwisata, kerajinan, atau pertanian berkelanjutan bisa dimaksimalkan untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru.

4. Keterlibatan Komunitas dalam Pengambilan Keputusan – Mengajak masyarakat berpartisipasi dalam perencanaan dan keputusan terkait penutupan tambang, agar tercipta solusi yang adil dan berkelanjutan.

“Pendekatan ini menunjukkan bahwa kebijakan tidak hanya mempertimbangkan kelestarian lingkungan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh,” ujar Marshal.

Di akhir pernyataannya, Marshal kembali menekankan pentingnya kontribusi PT Timah bagi Babel dan menegaskan bahwa konflik ini dapat dimanfaatkan untuk menaikkan nilai tawar Babel. Menurutnya, dengan royalti yang hanya 1%, Babel sulit membangun kembali perekonomiannya di masa depan.

“Kita ingin royalti 10% ini menjadi nilai tawar yang kuat bagi Babel. Timah lambat laun akan habis, dan Babel butuh persiapan ekonomi yang lebih baik. Dengan kontribusi yang memadai, kita bisa membangun Babel yang lebih sejahtera,” pungkas Marshal.

(T-APPI)

 

Berita Terkait

8 Gudang BBM Ilegal di Tanjung Bintang Disorot, Warga Desak Aparat Bertindak
Polres Pesawaran Terima Hasil Forensik CCTV, Zahrial Desak RD Segera Ditetapkan Tersangka
Wakil Bupati Raja Ampat Resmi Melepas 24 Calon Jemaah Haji Tahun 2026
Terlapor Kasus Dugaan Asusila InginkN Jalur Damai,Namun Korban Tegas Lanjutkan Proses Hukum
Anak Dosen Diduga Cabuli Remaja, Dilaporkan ke Polresta Bandar Lampung, Terancam Hukuman Berat
Anak Ini Pelarian Dari Jayapura Dengan Tujuan Surabaya, Namun Tidak Berhasil Melewati Pelabuhan Makassar
Laga Terakhir Persipura vs Persiku Di Tunda, Ini Alasan nya!!
MBG Teluk Pandan Diduga Ada Ulat dalam Makanan Siswa, Warga Desak Evaluasi Total

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:48 WIB

8 Gudang BBM Ilegal di Tanjung Bintang Disorot, Warga Desak Aparat Bertindak

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:42 WIB

Polres Pesawaran Terima Hasil Forensik CCTV, Zahrial Desak RD Segera Ditetapkan Tersangka

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:48 WIB

Wakil Bupati Raja Ampat Resmi Melepas 24 Calon Jemaah Haji Tahun 2026

Rabu, 29 April 2026 - 11:58 WIB

Terlapor Kasus Dugaan Asusila InginkN Jalur Damai,Namun Korban Tegas Lanjutkan Proses Hukum

Senin, 27 April 2026 - 15:41 WIB

Anak Dosen Diduga Cabuli Remaja, Dilaporkan ke Polresta Bandar Lampung, Terancam Hukuman Berat

Sabtu, 25 April 2026 - 17:30 WIB

Laga Terakhir Persipura vs Persiku Di Tunda, Ini Alasan nya!!

Jumat, 24 April 2026 - 10:27 WIB

MBG Teluk Pandan Diduga Ada Ulat dalam Makanan Siswa, Warga Desak Evaluasi Total

Jumat, 24 April 2026 - 08:36 WIB

PFM Diduga Mencemarkan Nama Baik Mesak Mambraku di Media, Mesak Resmi Melapor ke Polisi

Berita Terbaru